Teknik dalam hidroponik bermacam-macam, tapi tujuannya adalah sama, yaitu untuk memberikan nutrisi kepada tanaman. Hal ini selaras dengan definisi hidroponik, yaitu metode menanam tanaman dalam larutan kaya nutrisi berbasis air dan tanpa tanah.

Premis dasar di balik hidroponik adalah untuk memungkinkan akar tanaman bersentuhan langsung dengan larutan nutrisi dan memiliki akses ke oksigen yang merupakan pendukung utama untuk pertumbuhan yang lebih tepat. Untuk Anda yang baru mengenal hidroponik, berikut adalah pembahasan lengkapnya.

Memahami Teknik Menanam Hidroponik

Teknik dalam Hidroponik Paling Lengkap

Ketika merancang budidaya hidroponik, Anda perlu mempertimbangkan berbagai faktor seperti jenis tanaman (misalnya tomat, strawberry, atau salad), tempat di mana tanaman akan tumbuh (rumah kaca indoor atau outdoor), dan ukuran lahan beserta lingkungannya.

Semua faktor ini mempengaruhi pilihan jenis teknik yang akan digunakan dan konsekuensinya. Ada 7 teknik yang paling populer, di antara semuanya tidak ada yang terbaik, tapi masing-masing sempurna untuk digunakan sesuai dengan situasi tertentu.

1. Deep Water Culture

Deep Water Culture (DWC) juga dikenal sebagai metode reservoir atau lebih akrab dengan nama “budidaya dalam air”, yaitu metode menumbuhkan tanaman secara hidroponik dengan akarnya tersuspensi dalam larutan nutrisi selama seluruh siklus tumbuh.

Sejauh ini, DWC merupakan metode termudah untuk menanam tanaman dengan hidroponik. Dalam sistem Deep Water Culture, akar ditangguhkan dalam larutan nutrisi, dan pompa udara akuarium mengoksidasi larutan nutrisi untuk menjaga akar tanaman tidak tenggelam.

Manfaat utama menggunakan sistem Deep Water Culture adalah tidak ada penyemprot tetes atau semprotan yang menyumbat. Hal ini membuat DWC menjadi pilihan yang sangat baik untuk hidroponik organik, karena sistem hidroponik yang menggunakan nutrisi organik lebih rentan terhadap penyumbatan.

2. Nutrient Film Technique

Nutrient Film Technique (NFT) adalah jenis sistem hidroponik yang larutan nutrisinya dialirkan secara kontinu ke akar tanaman. Dalam teknik ini, ruang tempat akar tumbuh berbentuk saluran seperti tabung/pipa yang posisinya diatur sedikit miring sehingga larutan nutrisi mengalir dengan gaya gravitasi.

Jadi posisi akar berada di dalam air sementara daun dan sebagian batang memanjang di atas. Teknik ini seringkali tidak membutuhkan media tanam, hanya menggunakan pot bersih atau gelas aqua bekas untuk mendukung tanaman.

Teknik ini adalah yang paling populer dan serbaguna, karena membuat hanya ujung akar yang bersentuhan dengan larutan nutrisi, sehingga bagian atas tanaman dapat memperoleh lebih banyak oksigen yang membuat tanaman tumbuh lebih cepat.

NFT termasuk teknik yang sederhana dan mudah beradaptasi dengan ruang yang berbeda. Selain itu juga relatif murah dan menggunakan lebih sedikit air + larutan nutrisi. Namun salah satu kelemahan NFT adalah ketergantungannya pada listrik, dengan pompa beroperasi 24/7.

Jadi, jika ada pemadaman listrik atau kegagalan pompa, akar tanaman akan cepat kering dan tanaman bisa rusak parah, bahkan meskipun kondisi ini hanya terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Itu sebabnya sistem ini tidak cocok untuk tanaman yang menghasilkan buah besar, karena rentan gagal panen.

Tapi paling cocok untuk tanaman kecil yang tumbuh cepat seperti selada, kemangi, herbal, dan beberapa tanaman lain yang akan dipanen sebelum akarnya tumbuh cukup besar untuk mengisi saluran tumbuh dan memblokir aliran larutan nutrisi.

Related Post :  Cara Budidaya Tanaman Hidroponik Yang Paling Mudah

Di alam, teknik NFT setara dengan tanaman yang tumbuh di sungai/aliran dangkal/tepian sungai. Akar tanaman selalu basah tapi posisinya yang dangkal dan turbulensi air membuatnya tetap aerasi dan sehat.

3. Deep Flow Technique (DFT)

DFT adalah metode irigasi hidroponik yang melakukan sirkulasi larutan nutrisi mengalir dan menyisakan larutan menggenang pada wadah. Tingginya genangan cukup bervariasi, antara 2-5 cm, tergantung dari ukuran bahan / media yang digunakan.

Dalam hal penggunaan pipa paralon PVC, biasanya pipa yang digunakan berukuran antara 2.5 – 4 inch. Pada sistem DFT, air yang disirkulasikan dalam sistem talang air atau pipa PVC dialirkan menggunakan pompa air listrik.

Dikarenakan sistem yang menyisakan air menggenang, maka pompa air tidak harus selalu dinyalakan. Misalnya, Anda dapat menggunakan timer (pengatur waktu) untuk membuat pompa menyala pada waktu tertentu. Misalkan hanya menyala pada pagi atau siang hari.

Dengan kata lain, teknik ini membuat irigasi lebih aman karena akar masih disuplai larutan nutrisi jika listrik padam atau pompa rusak. Tapi metode ini tidak banyak diterapkan terutama dalam pertanian besar/jangka panjang, karena pasokan oksigen ke tanaman bervariasi sehingga pertumbuhan tanaman tidak merata.

4. Drip System (Sistem Tetes)

Hidroponik sistem tetes adalah yang paling populer dari semua sistem hidroponik, baik di kalangan petani rumahan maupun petani komersial. Hal ini karena sistem tetes sangat sederhana tapi juga efisien dan serbaguna, sehingga hasil panen bisa berlimpah.

Dengan menggunakan pompa yang terletak di wadah larutan nutrisi, sistem tetes hidroponik memberikan nutrisi ke akar tanaman melalui tetesan. Pompa biasanya terhubung ke timer yang mengotomatiskan jadwal irigasi.

Sistem tetes dapat dengan mudah dirancang dalam banyak cara, sesuai lahan dan kebutuhan Anda, dari skala kecil hingga besar. Teknik ini juga membuat tanaman tidak sensitif terhadap waktu penyiraman, jadi tanaman tidak mudah stres saat tidak mendapatkan air tepat waktu karena satu dan lain hal.

Ada dua jenis hidroponik sistem tetes, yaitu:

a. Recovery Drip Systems (Sistem Pemulihan)

Disebut juga dengan sistem tetes putar, Recovery Drip Systems bekerja dengan membuat larutan nutrisi dipulihkan dan didaur ulang melalui sistem beberapa kali. Sistem-sistem inilah yang menjadi andalan vertikal garden untuk mendistribusikan nutrisi dari atas ke bawah.

Sistem ini bekerja dengan perlahan-lahan meneteskan larutan ke dalam media tanaman dan memungkinkan bagian yang tidak digunakan meresap ke bawah sebelum memompanya kembali ke penghasil tetesan.

Kelemahan sistem ini adalah dapat merubah pH air dan kekuatan nutrisi, sehingga Anda harus memonitor pH dan tingkat nutrisi larutan secara berkala. Anda perlu menyesuaikan tingkat pH sesuai kebutuhan dan secara berkala mengosongkan wadah larutan nutrisi dan menggantinya dengan sejumlah larutan baru.

b. Non-Recovery Drip Systems (Sistem Tetes Habis)

Meskipun tampak kontra-intuitif, sistem tetes habis sebenarnya lebih efisien sumber daya daripada sistem tetes putar. Karena itu teknik ini lebih disukai petani hidroponik komersial. Agar lebih efisien, siklus tetesan harus sangat tepat, karenanya harus menggunakan timer akurat yang bisa mengatur waktu hingga detik.

Dan terutama jika sistem tetesan ini disesuaikan untuk setiap tanaman, media tanam di sekitar setiap tanaman dapat dibasahi secukupnya sehingga tanaman memiliki air dan nutrisi. Keuntungan lain adalah teknik ini tidak merubah pH.

Tapi karena teknik ini tidak mendaur ulang larutan nutrisi seperti pada sistem tetes putar, Anda harus mengisi ulang wadah larutan nutrisi secara berkala untuk memastikan tanaman mendapat irigasi yang cukup.

Related Post :  Beberapa Contoh Tanaman Hidroponik Indoor Hias

5. Ebb & Flow System

Jenis irigasi ini bekerja seperti pasang surut ombak, yaitu membanjiri area yang tumbuh dengan larutan nutrisi pada interval tertentu. Teknik ini beroperasi cukup sederhana.

Pertama, pompa yang terhubung ke pengatur waktu membuat larutan nutrisi mengalir dari wadah ke bagian utama tabung melalui pipa atau selang. Kemudian larutan nutrisi tersebut akan terus mengisi (membanjiri) tabung sampai air meluap dan membasahi akar tanaman.

Dan ketika pompa mati, air akan tersedot kembali ke wadah melalui pompa. Yang harus diperhatikan adalah tabung luapan harus diatur sekitar 2 inch di bawah bagian atas media tanam.

6. Wick System

Wick system adalah salah satu metode hidroponik termudah dan termurah. Anda hanya perlu menempatkan bahan peresap air yang baik seperti kain atau tali kapas di atas media tumbuh dengan salah satu ujung sumbu ditempatkan dalam larutan nutrisi agar larutan nutrisi jatuh membasahi akar tanaman.

Sistem ini bahkan masih dapat disederhanakan dengan menghilangkan semua bahan sumbu dan hanya menggunakan media tanam yang memiliki kemampuan baik untuk mengalirkan nutrisi ke akar, seperti perlite atau vermiculite.

Namun hindari menggunakan media seperti rockwool, sabut kelapa, atau gambut, karena dapat menyerap terlalu banyak larutan nutrisi dan membanjiri akar. Teknik ini bekerja dengan baik untuk tanaman yang perlu tumbuh untuk jangka waktu yang lama sebelum panen, seperti tomat.

7. Aeroponik

Aeroponik adalah metode baru dalam budidaya tanaman hidroponik yang menggunakan ruang udara dan nozzle (selang putar) bertekanan tinggi untuk menyemprotkan larutan irigasi dan mikro-pulsa untuk penyerapan akar maksimal.

Teknik ini umumnya hanya digunakan untuk kebun herbal, buah, dan sayur yang luas. Sistem ini menunjukkan kinerja luar biasa dalam kondisi ideal, tapi juga membutuhkan lebih banyak listrik dan pemeliharaan intensif.

Pompa yang digunakan harus kuat agar alirannya baik, nozzle harus dilepas dan dibersihkan di antara setiap siklus panen, sistem filtrasi partikel juga harus baik agar tidak terjadi penyumbatan. Inilah yang membuat teknik ini disebut paling mahal dan kompleks.

Di alam, teknik aeroponik dapat dilihat di gua-gua di bawah air terjun. Tanaman yang tumbuh di dinding gua akan menerima kabut halus dari air sungai yang jatuh sebagai satu-satunya sumber irigasi.

Perbedaan Teknik Hidroponik NFT dan DFT

Teknik dalam Hidroponik Paling Lengkap

Berikut adalah daftar perbedaannya:

  • Pada teknik DFT, pompa tidak harus selalu dinyalakan, sehingga lebih hemat listrik, tapi NFT sebaliknya.
  • DFT membuat nutrisi tanaman tetap terjaga bahkan saat sedang ada pemadaman listrik. Sedangkan NFT sangat bergantung pada listrik, dengan pompa beroperasi 24/7, sehingga jika ada pemadaman atau kerusakan pompa, akar tanaman akan cepat kering dan tanaman bisa rusak parah.
  • Berbagai jenis tanaman hidroponik bisa menggunakan DFT. Sedangkan NFT hanya cocok untuk tanaman kecil yang tumbuh cepat seperti selada, kemangi, herbal, dan tidak cocok untuk tanaman berbuah besar seperti pepaya.
  • DFT membuat suplai oksigen untuk akar tumbuhan lebih tipis, sehingga tidak cocok untuk kebun besar atau tanaman yang tumbuh dalam jangka panjang. Sedangkan NFT membuat tanaman memperoleh suplai air, oksigen, dan nutrisi secara terus menerus.
  • NFT relatif murah dan sederhana, sementara DFT lebih mahal dan membutuhkan lebih banyak perawatan.
  • DFT lebih hemat air dan nutrisi, tapi NFT membutuhkan air dan nutrisi lebih banyak untuk menggenangi wadah.

Berdasarkan list di atas, dapat disimpulkan bahwa kedua teknik ini sama-sama punya kelebihan. Tapi NFT lebih cocok digunakan untuk hidroponik skala industri, sementara DFT lebih ideal untuk skala kecil dan lahan sempit. Dan sistem DFT sebenarnya merupakan penyempurnaan dari teknik hidroponik NFT.

Related Post :  Nutrisi Tanaman Hidroponik Organik dan Alami

BACA JUGA : Tanaman Hidroponik: Media, Jenis, Cara, dan Teknik Hidroponik

Teknik Budidaya Hidroponik

Teknik dalam Hidroponik Paling Lengkap

Semua petani hidroponik menginginkan hal yang sama, yaitu hasil panen lebih besar dan panen lebih cepat. Ini bukan prestasi yang bisa dicapai dengan mudah. Dibutuhkan kerja keras, peralatan yang tepat, dan pertimbangan yang cermat atas situasi spesifik Anda.

Setelah mempelajari berbagai jenis teknik dalam hidroponik, Anda juga perlu tahu tips budidaya hidroponik yang tepat agar bisa menikmati hasil panen yang luar biasa. Berikut adalah kiat-kiatnya:

1. Buatlah Catatan

Cek dan catat setiap perubahan nutrisi, penyiraman, tingkat pH, pencahayaan, serta mencatat tentang bagaimana tanaman Anda tumbuh atau berkembang dari waktu ke waktu. Anda bisa menggunakan data ini untuk menunjukkan faktor-faktor apa yang membantu tanaman Anda tumbuh lebih baik.

2. Perhatikan Jumlah Air

Jika Anda menggunakan terlalu banyak air, akar tanaman Anda akan cepat membusuk dan tanaman akan mati. Jika Anda menggunakan terlalu sedikit air, akar akan mengering dan juga mati. Karena itu Anda harus sangat berhati-hati dengan penyesuaian jumlah air untuk mencapai hidrasi optimal.

Awasi daun tanaman Anda sebelum dan sesudah setiap penyiraman. Jika tanaman Anda tampak segar setelah disiram, sirami lebih sering. Tapi jika tanaman Anda tampak layu sesaat setelah disiram, sirami lebih jarang.

3. Pembersihan

Setiap kali Anda melihat daun atau batang yang tampak tidak sehat atau membusuk, segera potong dan singkirkan agar tidak menular ke tanaman di sebelahnya. Semakin rajin Anda membersihkannya, semakin besar hasil panen Anda.

4. Perhatikan Temperatur

Terlalu banyak orang yang mengabaikan tempat penyimpanan larutan nutrisi, padahal hal ini sangat penting. Simpanlah larutan nutrisi Anda pada suhu 19-24 °C. Suhu di bawah atau di atas ini akan membuat kandungan pada larutan nutrisi berubah dan tidak bekerja optimal untuk tanaman Anda.

5. Pilih Pupuk yang Benar

Pupuk untuk tanaman hidroponik berbeda dengan pupuk untuk tanaman yang tumbuh di tanah, jadi jangan membeli pupuk di toko pertanian biasa. Pastikan pupuk yang Anda beli berasal dari toko hidroponik terkemuka dan pilih yang berkualitas tinggi.

6. Gunakan Generator CO2 dengan Hati-hati

Memang benar bahwa penggunaan generator CO2 dapat secara dramatis meningkatkan hasil panen, tapi juga dapat membunuh tanaman Anda jika dilakukan dengan sembrono.

Saat menggunakan generator CO2, penting untuk meningkatkan jumlah cahaya dan nutrisi yang diterima tanaman Anda. Anda juga harus mengukur kondisi atmosfer dengan sangat hati-hati.

7. Perhatikan Pencahayaan

Cahaya adalah salah satu elemen kunci yang menentukan pertumbuhan tanaman, baik di tanah maupun dengan hidroponik, baik indoor maupun outdoor. Tanaman membutuhkan cahaya hingga 5 jam per hari. Jika hidroponik Anda indoor, Anda harus mengontrol cahaya dan pilih lampu yang ideal, seperti LED.

Kesimpulan

Mengapa hidroponik tumbuh lebih cepat dan meningkatkan hasil panen? Jawabannya terletak pada teknik dalam hidroponik yang Anda pilih. Bersama dengan itu Anda juga harus memperhatikan suhu, pencahayaan, melakukan perawatan intensif, dan perhatikan jumlah air yang Anda berikan ke tanaman.

Baca Juga Artikel Yang Berkaitan Dengan Tanaman Hidroponik :

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like